
Husni Atsmara Alvawaid, S.Hum., merupakan salah satu guru MI Nurul Huda Adirejo yang merupakan lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), IAIN Metro, Lampung. Di balik latar belakang akademiknya, ia menuangkan pemikiran reflektif tentang ilmu, kebijaksanaan, dan penghayatan hidup melalui sebuah karya berjudul “Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku”. Judul yang terinspirasi dari petuah luhur Jawa dalam Serat Wedatama, pupuh Pocung, karya K.G.P.A.A. Sri Mangkunegara IV, tersebut mengandung pesan mendalam bahwa ilmu sejati tidak berhenti pada teori, hafalan, atau kata-kata indah, melainkan menemukan maknanya melalui tindakan nyata dan penghayatan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber gambar: https://sastraarabiainmetro.home.blog/2018/11/16/mahasiswa-bahasa-sastra-arab-iain-metro-meraih-juara-ii-di-uin-syarif-hidayatullah-jakarta-bangga-jadi-mahasiswa-sastra/
Dalam tulisannya, Husni mengajak pembaca memahami bahwa kejujuran, kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, serta kedekatan kepada Allah merupakan bagian dari proses belajar yang sesungguhnya. Ia memadukan kearifan lokal, refleksi spiritual Islam, dan bahasa kontemporer untuk menyampaikan bahwa kehidupan adalah ruang belajar yang tidak pernah tutup, sementara setiap pengalaman dapat menjadi pelajaran bagi jiwa yang bersedia merenung.
Melalui karya ini, Husni tidak sekadar menyampaikan gagasan tentang ilmu, tetapi juga menghadirkan sebuah ajakan untuk menjadikan pengetahuan sebagai jalan pembentukan karakter, pendewasaan diri, dan penguatan hubungan dengan Allah serta sesama makhluk-Nya. Sebuah pemikiran yang relevan dengan dunia pendidikan, bahwa keberhasilan belajar bukan semata-mata tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, melainkan sejauh mana pengetahuan itu menjelma menjadi sikap, akhlak, dan tindakan yang membawa kebaikan.
Berikut ini adalah paragraf buah karya Husni Atsmara Alvawaid yang dimaksud:
Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku
Ngelmu iku kelakone kanthi laku itu bukan quotes estetik untuk dijadikan caption instagram, bukan kalimat sakti yang jikalau ditempel di bio langsung membuat kita jadi bijak. Ia lebih mirip notifikasi rahasia yang hanya terbaca jika hidupmu sendiri kau nyalakan datanya.
Kata para leluhur, ilmu itu bukan barang di rak perpustakaan, bukan hanya slide powerpoint, bukan sekedar link google drive yang bisa kamu share lalu kamu lupakan. Ilmu itu keadaan jiwa, semacam “update versi” di dalam dirimu, dari egois menjadi peka, dari bingung menjadi paham, dari hanya Bertanya “kenapa aku?” menjadi “apa yang Allah mau ajarkan ke padaku”
Makanya, ngelmu iku kelakone khanti laku. Bukan kelakone kanti scroll, bukan kelakone kanthi copy paste dari jawaban di kolom komentar. Laku itu ketika kamu kerja jujur padahal bisa sekali mengambil jalan curang, laku itu waktu kamu memilih untuk minta maaf terlebih dulu meski di chat terakhir jelas-jelas dia yang salah., laku itu saat kamu tetap salat, tetap jaga hati, padahal algoritma hidupmu sedang nge-push konten kecewa, iri dan putus asa. Setiap pilihan kecilmu, itu latihan otot batin, itu gym yang tak terlihat di tempat ilmu bertumbuh.
Makanya jangan hanya hidup memakai pikiran, tapi juga dengan zikir dan amal. Pikir itu google maps, zikir itu sinyal ke Satelit, amal itu kamu benar-benar jalan di trotoar. Kalau cuma zikir tanpa pikir, kamu mudah baper tapi gampang disesatkan. Kalau Cuma amal tanpa kedua-duanya, kamu sibuk, capek, tapi tidak tahu sebenarnya lagi ke mana. Ilmu baru jadi cahaya kalau tiga-tiganya berjalan bersama, seperti trio aplikasi yang harus diupdate bersamaan.
Anggap saja hidup ini adalah kelas terbuka 24 jam. Kita belajar sabar bukan dari definisi dalam kamus, tapi dari antrean panjang di kantor, dari dosen atau guru yang telat masuk, dari orang tua yang cerewetnya level hard. Kita belajar ikhlas bukan dari ceramah yang sedang viral, tapi dari uang yang raib, rencana yang gagal, dan cinta yang tidak menjadi jodoh. Setiap patah hati, setiap gagal skripsi, setiap salah langkah, kalau kita mau membaca, semua itu modul pembelajaran edisi spesial yang Allah kirim langsung ke alamat hidup kita.
Pada akhirnya, “Ngelmu kelakone kanthi laku” adalah undangan sunyi: “Mari jadikan hidupmu sebagai sekolahan atau kampus.” Tuhan bukanlah guru atau dosen yang killer, Dia maha lembut yang memberi kita remedial tak terbatas. Selama kita mau terus berjalan, nyicil jujur, nyicil sabar, nyicil syukur, jatuh-bangun tapi masih mau kembali kepada-Nya, kita sudah berada di jalur Ngelmu. Bukan jalur yang membuat kita terlihat keren, tapi jalur yang pelan-pelan membuat kita pulang sebagai manusia yang lebih utuh, lebih teduh, dan lebih terhubung dengan Allah juga dengan sesama makhlukNya.
Jikalau ada yang bertanya, di mana kamu belajar ilmu hidup? Jawablah dengan pelan-pelan dalam hati: “di tempat yang sama dengan luka-lukaku, di jalan yang sama dengan tawaku, di setiap hari yang kusebut dengan Laku”. Perlu diingat bahwa patah hati adalah standar yang kita buat sendiri.